Jakarta, 2 September 2026 – Lionel Messi menutup perjalanan panjangnya bersama Timnas Argentina dengan sebuah surat perpisahan yang tidak sekadar menjadi pengumuman pensiun. Ditulis dengan tangan dalam beberapa lembar kertas, pesan tersebut berisi ungkapan cinta, rasa terima kasih, kebanggaan, sekaligus kesadaran bahwa sebuah perjalanan pada akhirnya harus memiliki titik akhir. Namun, perhatian publik tidak hanya tertuju pada isi surat Messi, melainkan juga pada detail kecil dalam tulisannya. Salah satu kata yang sempat dicoret Messi justru membuat pesan tersebut terasa semakin dalam dan filosofis.
Messi mengumumkan pensiun dari Timnas Argentina pada 31 Agustus 2026, setelah lebih dari dua dekade mengenakan seragam Albiceleste. Keputusan itu datang setelah Argentina kalah dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026. Dalam suratnya, Messi menggambarkan keputusan tersebut sebagai sesuatu yang menyakitkan, tetapi pada saat yang sama ia memahami bahwa waktunya telah tiba untuk mengakhiri perjalanan bersama tim nasional. Ia juga menegaskan bahwa selama membela Argentina, dirinya selalu memberikan seluruh kemampuan yang dimiliki demi membuat para pendukung merasa bangga.
Salah satu bagian yang paling kuat dari surat tersebut adalah ketika Messi menyinggung soal berakhirnya sebuah tahapan dalam kehidupan. Ia menulis bahwa semakin sedikit waktu yang tersisa dan berbagai tahapan kehidupan mulai ditutup satu per satu. Dalam konteks kariernya, kalimat itu menggambarkan bahwa pensiun bukan semata-mata karena kemampuan bermain yang hilang, melainkan bagian dari proses alami ketika seseorang menyadari bahwa sebuah era telah selesai. Messi kemudian mengatakan bahwa ia mencintai, pernah mencintai, dan akan selalu mencintai Timnas Argentina. Ungkapan tersebut membuat keputusannya terasa bukan sebagai perpisahan karena kehilangan rasa cinta, melainkan karena memahami kapan harus berhenti.
Detail yang menarik perhatian muncul dari cara Messi menulis surat tersebut. Dalam salah satu bagian, terdapat kata yang dicoret dan kemudian digantikan dengan pilihan kata lain. Perubahan kecil itu memperlihatkan bahwa Messi tidak menulis pesannya secara terburu-buru. Ia menyusun kembali kalimat, mempertimbangkan kata yang tepat, kemudian memilih ungkapan yang menurutnya paling mampu menggambarkan perasaannya. Bagi seorang pesepak bola yang selama bertahun-tahun dikenal melalui aksi di lapangan, detail tersebut memperlihatkan sisi personal yang jarang terlihat publik.
Pada bagian lain, Messi menggunakan ungkapan bahwa dirinya telah memberikan seluruh yang dimiliki dan tidak lagi memiliki sesuatu untuk diberikan kepada tim nasional. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi alasan utama mengapa ia merasa generasi berikutnya perlu mendapatkan kesempatan. Messi menyadari bahwa Argentina memiliki pemain-pemain muda yang dapat mengambil alih peran generasi sebelumnya. Dengan memilih mundur, ia tidak hanya menutup kariernya sendiri, tetapi juga membuka ruang bagi pemain baru untuk membangun era mereka bersama Argentina.
Surat itu juga menunjukkan bahwa keputusan Messi sebenarnya sudah mulai terbentuk jauh sebelum pengumuman resmi. Ia mencantumkan catatan bahwa tulisan tersebut dibuat pada 21 Juli 2026, hanya dua hari setelah final Piala Dunia. Namun, Messi kemudian mengatakan bahwa setelah kepergian ayahnya, Jorge Messi, ia semakin yakin dengan keputusan tersebut. Catatan kecil itu membuat surat perpisahannya memiliki dimensi emosional yang lebih kuat karena memperlihatkan bahwa keputusan tersebut telah dipikirkan dalam waktu cukup panjang.
Selama membela Argentina, Messi melewati perjalanan yang sangat panjang dan penuh perubahan. Ia melakukan debut pada 2005 dan kemudian menjadi pemain dengan jumlah penampilan serta gol terbanyak dalam sejarah tim nasional Argentina. Ia sempat mengalami periode penuh kritik setelah beberapa kegagalan di final, termasuk pernah mengumumkan pensiun pada 2016 sebelum akhirnya kembali. Setelah itu, Messi membawa Argentina meraih Copa America 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, dan Copa America 2024. Ia kemudian mengantarkan Argentina hingga final Piala Dunia 2026 sebelum akhirnya memainkan pertandingan terakhirnya bersama negara tersebut.
Kini Messi meninggalkan Timnas Argentina dengan catatan 207 penampilan dan 125 gol. Angka tersebut menempatkannya sebagai pencetak gol terbanyak sekaligus pemain dengan jumlah penampilan terbanyak dalam sejarah Albiceleste. Namun, warisan Messi tidak hanya dapat diukur melalui statistik. Ia menjadi sosok yang mengubah perjalanan Argentina dari masa penuh kegagalan menjadi periode yang dipenuhi gelar. Karena itu, ketika Messi memilih satu kata, mencoretnya, lalu menyusun kembali pesan perpisahannya, detail tersebut terasa seperti gambaran kecil dari perjalanan hidupnya sendiri: tidak semua hal berjalan sesuai rencana, tetapi setiap tahap tetap memiliki arti.
Pada akhirnya, kalimat perpisahan Messi terasa filosofis karena tidak hanya berbicara mengenai pensiun dari sepak bola internasional. Pesannya berbicara tentang waktu, pergantian generasi, kehilangan, cinta terhadap sebuah negara, dan keberanian untuk menyadari kapan sebuah perjalanan harus berakhir. Messi tidak meninggalkan Argentina karena berhenti mencintainya, tetapi justru karena merasa sudah memberikan seluruh yang mampu diberikan. Dari seorang anak Rosario yang memulai perjalanan bersama Albiceleste hingga menjadi legenda terbesar dalam sejarah tim tersebut, perpisahan Messi menjadi penutup sebuah era sekaligus awal bagi generasi baru Argentina.