Makassar, 16 September 2026 – Pemerintah Kota Makassar mencatat perkembangan positif pada berat badan anak dengan kondisi stunting yang mengikuti program pemberian makanan tambahan melalui Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK). Program tersebut diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak sekaligus memperkuat intervensi penanganan stunting di tingkat keluarga. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk melihat perubahan berat badan serta kondisi pertumbuhan anak setelah mendapatkan makanan tambahan. Hasil evaluasi menunjukkan sejumlah anak mengalami kenaikan berat badan selama mengikuti program. Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat respons anak terhadap intervensi gizi. Pemerintah daerah tetap menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan agar peningkatan berat badan dapat diikuti pertumbuhan yang sesuai dengan usia anak.
Program makan tersebut melibatkan kader PKK yang berada dekat dengan lingkungan keluarga penerima manfaat. Kader membantu memastikan makanan yang diberikan dapat diterima anak sekaligus memantau perkembangannya dari waktu ke waktu. Pendekatan berbasis keluarga dinilai penting karena persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui pemberian makanan dalam periode singkat. Pola makan sehari-hari, kebersihan lingkungan, kesehatan ibu dan anak, serta akses terhadap pelayanan kesehatan ikut memengaruhi proses pertumbuhan. Keterlibatan kader juga mempermudah penyampaian edukasi mengenai kebutuhan gizi kepada orangtua. Dengan demikian, program tidak berhenti pada distribusi makanan, tetapi juga diarahkan untuk membangun kebiasaan yang mendukung pertumbuhan anak.
Kenaikan berat badan menjadi perkembangan yang menggembirakan, tetapi indikator tersebut bukan satu-satunya ukuran dalam menentukan perbaikan kondisi stunting. Stunting berkaitan dengan gangguan pertumbuhan yang dinilai berdasarkan panjang atau tinggi badan menurut usia. Karena itu, pemantauan perlu mencakup berat badan, tinggi atau panjang badan, usia, serta perkembangan anak secara keseluruhan. Pengukuran yang dilakukan secara rutin membantu tenaga kesehatan melihat apakah pertumbuhan berlangsung sesuai jalur yang diharapkan. Apabila berat badan meningkat tetapi pertumbuhan tinggi badan masih membutuhkan perhatian, intervensi dapat dilanjutkan dan disesuaikan. Pendekatan tersebut diperlukan agar keberhasilan program tidak hanya dinilai berdasarkan perubahan angka timbangan.
Makanan yang diberikan kepada anak perlu memperhatikan kecukupan energi, protein, vitamin, dan mineral sesuai kebutuhan pertumbuhan. Protein memiliki peran penting dalam pembentukan jaringan tubuh, sementara berbagai mikronutrien dibutuhkan untuk mendukung proses metabolisme dan perkembangan. Variasi makanan juga diperlukan agar anak memperoleh zat gizi dari sumber yang berbeda. Orangtua didorong untuk memanfaatkan bahan pangan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sehingga pola makan bergizi dapat dilanjutkan setelah program selesai. Pemanfaatan telur, ikan, daging, sayuran, buah, serta sumber pangan lokal dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan keluarga. Cara pengolahan juga perlu mempertimbangkan usia serta kemampuan anak dalam menerima makanan.
PKK memiliki posisi strategis karena jaringan kader menjangkau masyarakat hingga tingkat kelurahan dan lingkungan tempat tinggal. Kedekatan tersebut memungkinkan pemantauan dilakukan secara lebih intensif dibandingkan intervensi yang hanya berlangsung ketika anak datang ke fasilitas kesehatan. Kader dapat mengingatkan keluarga mengenai jadwal penimbangan, membantu memberikan edukasi, serta melaporkan apabila terdapat anak yang tidak menunjukkan perkembangan sesuai harapan. Informasi tersebut kemudian dapat diteruskan kepada puskesmas atau tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut. Kolaborasi antara kader dan tenaga kesehatan menjadi penting agar masalah pertumbuhan dapat ditemukan sedini mungkin. Anak yang membutuhkan penanganan khusus dapat segera diarahkan mendapatkan pelayanan sesuai kondisinya.
Peran orangtua tetap menjadi bagian terpenting dalam keberhasilan program karena sebagian besar waktu anak berada di lingkungan keluarga. Pemberian makanan tambahan dalam program perlu diikuti pola makan yang memadai di rumah. Orangtua juga perlu memperhatikan frekuensi makan, variasi menu, kebersihan makanan, serta respons anak terhadap jenis makanan tertentu. Ketika anak mengalami kesulitan makan, pendekatan yang sabar dan konsisten dapat membantu membangun kebiasaan makan yang lebih baik. Memaksa anak secara berlebihan justru dapat membuat waktu makan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan apabila kesulitan makan berlangsung lama atau disertai gangguan pertumbuhan.
Selain persoalan makanan, pencegahan infeksi menjadi bagian penting dalam penanganan anak dengan masalah pertumbuhan. Anak yang sering mengalami diare atau infeksi lainnya dapat mengalami gangguan penyerapan zat gizi dan kehilangan energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh. Kebersihan tangan, akses terhadap air bersih, sanitasi, dan kebersihan peralatan makan karena itu memiliki hubungan erat dengan upaya mengatasi stunting. Imunisasi dan pemeriksaan kesehatan rutin juga membantu melindungi anak dari penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan. Program berbasis masyarakat dapat menjadi sarana untuk mengingatkan keluarga mengenai berbagai faktor tersebut. Penanganan stunting dengan demikian membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan jumlah makanan.
Pemantauan secara rutin juga dibutuhkan untuk memastikan kenaikan berat badan berlangsung dengan pola yang sesuai. Perubahan berat badan dalam waktu singkat dapat dipengaruhi berbagai faktor sehingga tren dalam periode lebih panjang perlu diperhatikan. Data hasil penimbangan dapat membantu petugas menentukan anak yang memberikan respons baik maupun anak yang membutuhkan evaluasi tambahan. Apabila berat badan tidak meningkat sesuai harapan, penyebabnya perlu dicari lebih lanjut. Masalah dapat berkaitan dengan asupan yang belum mencukupi, infeksi berulang, gangguan pencernaan, atau kondisi kesehatan lainnya. Dengan data yang konsisten, intervensi dapat dibuat lebih tepat berdasarkan kebutuhan masing-masing anak.
Upaya Makassar menangani stunting juga membutuhkan koordinasi lintas sektor karena faktor penyebabnya saling berkaitan. Dinas kesehatan memiliki peran dalam pemeriksaan dan intervensi medis, sementara PKK dapat memperkuat pendampingan keluarga dan edukasi di masyarakat. Pemerintah kecamatan dan kelurahan dapat membantu memastikan keluarga sasaran memperoleh akses terhadap program yang tersedia. Posyandu menjadi salah satu titik penting untuk pemantauan pertumbuhan secara berkala. Dukungan terhadap kondisi sanitasi dan ketahanan pangan keluarga juga perlu berjalan bersama dengan program gizi. Kolaborasi tersebut diharapkan membuat intervensi tidak berhenti setelah anak menunjukkan kenaikan berat badan.
Kenaikan berat badan yang dicatat dari program makan PKK menjadi perkembangan awal yang dapat digunakan untuk memperkuat upaya penanganan stunting di Makassar. Pemerintah daerah tetap perlu memantau pertumbuhan anak dalam jangka panjang untuk memastikan manfaat program dapat dipertahankan. Keterlibatan keluarga, kader PKK, posyandu, puskesmas, serta pemerintah daerah menjadi bagian yang saling melengkapi dalam proses tersebut. Pemberian makanan bergizi perlu berjalan bersama dengan perbaikan pola asuh, sanitasi, pencegahan penyakit, dan pemeriksaan kesehatan. Anak yang belum menunjukkan perkembangan sesuai target membutuhkan evaluasi lebih lanjut agar intervensinya dapat disesuaikan. Dengan pendampingan yang konsisten, program tersebut diharapkan tidak hanya membantu menaikkan berat badan, tetapi juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara lebih