Jakarta, 8 September 2026 – Forum Corporate Social Responsibility (CSR) DKI Jakarta mendorong perusahaan dan dunia usaha memperkuat dukungan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama melalui penyediaan bantuan pangan siap santap. Dukungan makanan menjadi salah satu kebutuhan penting pada masa tanggap darurat karena sebagian warga masih berada di pengungsian dan belum dapat menjalankan aktivitas rumah tangga secara normal. Bantuan siap santap juga dinilai lebih mudah didistribusikan dan langsung digunakan oleh penyintas dibandingkan bahan pangan yang masih membutuhkan proses pengolahan. Keterlibatan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial diharapkan dapat melengkapi bantuan yang telah diberikan pemerintah, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi penting mengingat penanganan bencana NTT membutuhkan dukungan berkelanjutan hingga kondisi masyarakat benar-benar pulih.
Kebutuhan terhadap pangan siap konsumsi terlihat dari berbagai operasi kemanusiaan yang berlangsung di sejumlah wilayah terdampak. Penyaluran bantuan selama masa tanggap darurat mencakup makanan siap santap, sembako, air bersih, perlengkapan bayi, hygiene kit, selimut hingga kebutuhan tempat tinggal sementara. Di Kabupaten Nagekeo, misalnya, bantuan makanan siap santap telah beberapa kali didistribusikan kepada warga yang masih menghadapi keterbatasan setelah gempa. Pada 31 Agustus, sebanyak 100 paket makanan siap santap disalurkan di Puskesmas Kota dan Posko Lapangan Desa Danga, Kecamatan Aesesa. Sebelumnya, ratusan porsi makanan siap santap juga telah dibagikan di Mbay dan sejumlah lokasi terdampak lainnya.
Besarnya kebutuhan di lapangan membuat dukungan dari sektor swasta dinilai dapat memberikan kontribusi nyata terhadap keberlangsungan pelayanan di posko pengungsian. Bantuan perusahaan tidak harus selalu berbentuk dana tunai, tetapi dapat diarahkan pada kebutuhan yang telah dipetakan oleh petugas dan organisasi kemanusiaan. Makanan siap santap menjadi salah satu pilihan karena dapat segera diberikan kepada warga tanpa menambah beban pengolahan di lokasi bencana. Selain itu, dukungan dapat berupa air minum, kebutuhan bayi dan perempuan, perlengkapan kebersihan, terpal, selimut serta fasilitas pendukung dapur umum. Penyaluran berdasarkan asesmen kebutuhan diperlukan agar bantuan tidak menumpuk pada satu jenis barang sementara kebutuhan lain justru belum terpenuhi.
Operasi kemanusiaan di NTT sendiri telah melibatkan banyak lembaga dengan cakupan wilayah yang cukup luas. Hingga akhir Agustus 2026, BAZNAS mencatat operasi tanggap bencana telah menjangkau enam kabupaten terdampak, yakni Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Ende, dan Sikka. Sebanyak 90 personel lapangan bersama tim kesehatan, armada operasional, dan pos tanggap bencana dikerahkan untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat. Terdapat pula 53 pos layanan kemanusiaan yang digunakan untuk membantu memenuhi berbagai kebutuhan penyintas. Besarnya cakupan wilayah tersebut menunjukkan penanganan bencana membutuhkan koordinasi logistik yang kuat agar bantuan dapat menjangkau masyarakat secara merata.
Pemenuhan kebutuhan makanan menjadi salah satu bagian terbesar dari operasi tersebut. Hingga 31 Agustus, sebanyak 52.550 porsi makanan telah didistribusikan melalui dapur umum dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 7.450 porsi per hari. Selain makanan, layanan juga mencakup dapur air berkapasitas 3.500 gelas per hari, 928 paket logistik keluarga, perlengkapan kebersihan, selimut, terpal, sekolah darurat hingga pelayanan kesehatan. Sebanyak 619 pasien tercatat telah mendapatkan pelayanan kesehatan di tujuh titik penanganan. Data tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan penyintas tidak berhenti pada fase penyelamatan, tetapi terus berlangsung selama warga belum dapat sepenuhnya kembali memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri.
Dalam situasi seperti ini, keterlibatan CSR dapat diarahkan untuk memperkuat rantai pasok bantuan dari proses pengadaan hingga distribusi kepada penerima. Perusahaan yang mempunyai kemampuan produksi pangan, transportasi, pergudangan maupun jaringan distribusi dapat memberikan dukungan sesuai bidang masing-masing. Pendekatan tersebut memungkinkan kontribusi dunia usaha tidak hanya berupa penyerahan bantuan secara simbolis, tetapi benar-benar menjadi bagian dari sistem respons bencana. Bantuan makanan juga perlu memperhatikan kualitas, keamanan pangan, masa simpan dan kemudahan distribusi menuju wilayah yang aksesnya masih terbatas. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan petugas lapangan menjadi penting agar jumlah serta lokasi penerima dapat ditentukan berdasarkan kondisi aktual.
Dukungan sektor swasta dalam penanganan bencana NTT sebenarnya telah terlihat melalui sejumlah kolaborasi kemanusiaan. BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta sebelumnya menerima bantuan senilai total Rp2 miliar dari J99 Corp untuk masyarakat terdampak bencana di NTT dan Kalimantan. Khusus untuk masyarakat terdampak di NTT, bantuan tersebut mencakup donasi tunai Rp280 juta dan logistik senilai Rp420 juta. Kolaborasi semacam ini menunjukkan program CSR dapat diarahkan untuk memperkuat kapasitas lembaga yang telah memiliki jaringan dan personel di lokasi bencana. Dengan mekanisme tersebut, bantuan perusahaan dapat lebih cepat disesuaikan dengan kebutuhan yang ditemukan melalui asesmen lapangan.
Selain pangan, perkembangan kebutuhan penyintas tetap harus dipantau karena prioritas dapat berubah seiring berjalannya masa tanggap darurat dan pemulihan. Di sejumlah lokasi, kebutuhan air bersih masih menjadi perhatian, sedangkan daerah lainnya membutuhkan perlengkapan hunian sementara, layanan kesehatan atau dukungan psikososial. Karena itu, bantuan pangan siap santap sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari paket respons yang lebih luas dan bukan satu-satunya bentuk dukungan. Pengalaman distribusi bantuan di Nagekeo menunjukkan asesmen berkala diperlukan untuk mengetahui wilayah yang masih membutuhkan tambahan fasilitas maupun daerah yang kebutuhannya telah relatif terpenuhi. Informasi lapangan tersebut dapat menjadi pedoman bagi perusahaan sebelum menentukan bentuk program CSR yang akan dijalankan.
Dorongan keterlibatan CSR pada akhirnya diharapkan memperluas gotong royong dalam penanganan bencana NTT sekaligus memastikan kebutuhan dasar penyintas tetap tersedia selama proses pemulihan berlangsung. Bantuan makanan siap santap mempunyai peran penting pada kondisi darurat karena dapat segera dikonsumsi oleh warga yang belum mempunyai fasilitas memasak atau masih tinggal di pengungsian. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada koordinasi, pemetaan penerima, keamanan pangan serta ketepatan waktu distribusi. Sinergi antara pemerintah, organisasi kemanusiaan, dunia usaha dan masyarakat menjadi kunci agar bantuan dapat menjangkau wilayah yang benar-benar membutuhkan. Dengan dukungan yang terkoordinasi dan berkelanjutan, kontribusi CSR diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan darurat, tetapi juga membantu mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat terdampak bencana di NTT.