Jakarta, 5 September 2026 – Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) VIII di Jakarta pada 4–6 September 2026 dengan membawa semangat memperkuat persatuan dan kebhinekaan. Forum tertinggi organisasi tersebut mengusung tema “Perteguh Harmoni Kebhinekaan Menuju Indonesia Emas 2045” sebagai penegasan komitmen PSMTI untuk terus berkontribusi dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Munas menjadi ruang konsolidasi sekaligus evaluasi terhadap perjalanan organisasi selama periode kepengurusan sebelumnya. Aspirasi pengurus dari berbagai daerah juga dihimpun untuk menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program organisasi dalam empat tahun mendatang. Selain membahas persoalan internal, rangkaian kegiatan diarahkan untuk memperluas kontribusi sosial PSMTI kepada masyarakat. Semangat kebersamaan ditempatkan sebagai landasan agar keberagaman masyarakat Indonesia tetap menjadi kekuatan dalam mencapai agenda pembangunan nasional.
Rangkaian kegiatan Munas VIII dimulai dengan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) pada Jumat, 4 September 2026 di Kantor Sekretariat PSMTI Pusat, Equity Tower, Jakarta. Pertemuan tersebut melibatkan jajaran pimpinan dewan, pengurus pusat, serta ketua pengurus daerah dari berbagai wilayah Indonesia. Forum digunakan untuk mendengarkan laporan, masukan, serta aspirasi daerah mengenai perkembangan organisasi selama empat tahun terakhir. Sebanyak 30 provinsi dan sekitar 260 kabupaten/kota sebelumnya telah menyatakan kesiapan untuk mengikuti rangkaian Munas. Jumlah tersebut memperlihatkan luasnya jaringan organisasi yang telah berkembang di berbagai daerah. Konsolidasi nasional itu sekaligus menjadi kesempatan untuk menyelaraskan program pusat dan daerah agar kegiatan PSMTI dapat memberikan dampak yang semakin luas.
Pembukaan Munas VIII berlangsung di RedTop Hotel & Convention Center, Jakarta, pada Jumat malam dan dihadiri lebih dari 700 peserta. Jumlah peserta tersebut melampaui perkiraan awal panitia yang sebelumnya memperkirakan sekitar 500 orang akan hadir. Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman membuka rangkaian Munas dan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dengan seluruh elemen masyarakat dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045. Menteri Agama Nasaruddin Umar turut hadir dan memimpin doa pada pembukaan kegiatan. Sejumlah pejabat dan tokoh nasional lainnya juga mengikuti rangkaian acara sebagai bagian dari dukungan terhadap semangat persatuan yang dibawa dalam Munas. Kehadiran peserta dari berbagai daerah dinilai menjadi gambaran kuatnya antusiasme untuk menjaga kesinambungan organisasi.
Ketua Panitia Munas VIII PSMTI Peng Suyoto menjelaskan terdapat sejumlah agenda fundamental yang dibahas dalam forum tersebut. Salah satunya adalah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program kerja dan perjalanan organisasi selama periode kepengurusan sebelumnya. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui program yang telah memberikan dampak sekaligus mengidentifikasi bagian yang masih membutuhkan penguatan. Munas juga akan menetapkan arah kebijakan serta garis besar haluan organisasi untuk periode berikutnya. Agenda penting lainnya adalah pemilihan Ketua Umum Pengurus Pusat PSMTI yang baru. Proses tersebut diarahkan berlangsung dengan semangat kekeluargaan, musyawarah, dan mufakat sehingga keputusan yang dihasilkan dapat diterima seluruh unsur organisasi.
Ketua Umum PSMTI Wilianto Tanta sebelumnya menyatakan Rapimnas menjadi kesempatan untuk mendengarkan secara langsung pandangan para ketua pengurus daerah mengenai perjalanan organisasi. Aspirasi dari daerah mempunyai posisi penting karena setiap wilayah memiliki karakteristik, kebutuhan, serta tantangan sosial yang berbeda. Selama periode 2022–2026, PSMTI menjalankan berbagai kegiatan sosial mulai dari program bedah rumah hingga pembangunan jembatan gantung di sejumlah wilayah. Program tersebut menjadi bagian dari pendekatan organisasi untuk memberikan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat secara langsung. Evaluasi dalam Munas diharapkan dapat menentukan kegiatan mana yang perlu dilanjutkan, diperluas, maupun dikembangkan dengan pendekatan baru. Dengan demikian, program periode berikutnya dapat tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus sejalan dengan arah organisasi.
PSMTI menempatkan kebhinekaan sebagai salah satu nilai utama dalam perjalanan organisasinya. Keberadaan masyarakat Tionghoa dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keberagaman Indonesia sehingga kegiatan organisasi diarahkan untuk memperkuat hubungan dengan berbagai kelompok masyarakat. Persatuan, toleransi, pendidikan, kebudayaan, dan kegiatan sosial menjadi sejumlah bidang yang terus dikembangkan. Tema Munas VIII juga memperlihatkan upaya menghubungkan penguatan harmoni sosial dengan visi pembangunan Indonesia Emas 2045. Organisasi menilai kemajuan ekonomi dan pembangunan nasional membutuhkan kondisi masyarakat yang saling menghormati dan mampu bekerja bersama di tengah berbagai perbedaan. Karena itu, kebhinekaan tidak hanya diposisikan sebagai realitas sosial, tetapi juga sebagai modal penting bagi pembangunan bangsa.
Munas VIII turut dirangkaikan dengan penyelenggaraan Musyawarah Nasional Perwanti-PSMTI yang pertama. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keterlibatan perempuan dalam organisasi sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi munculnya gagasan dan program dari kalangan perempuan. Peningkatan partisipasi perempuan dinilai penting karena kegiatan sosial organisasi menyentuh berbagai bidang yang berhubungan langsung dengan keluarga dan masyarakat. Forum tersebut dapat digunakan untuk merumuskan program yang lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan dan kelompok masyarakat lainnya. Kehadiran Perwanti-PSMTI juga memperluas ruang kaderisasi serta kepemimpinan di lingkungan organisasi. PSMTI berharap keterlibatan berbagai unsur tersebut membuat organisasi semakin inklusif dan mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Selain sidang organisasi, rangkaian Munas VIII juga mencakup kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat umum. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan Munas tidak hanya berorientasi pada pergantian kepengurusan maupun pembahasan agenda internal. PSMTI ingin menjadikan momentum pertemuan nasional sebagai sarana memperluas interaksi dengan masyarakat sekaligus memperkuat semangat kepedulian sosial. Kegiatan sosial menjadi salah satu bentuk implementasi dari semangat kebhinekaan yang diangkat dalam tema Munas. Hubungan antarkelompok masyarakat diharapkan dapat semakin kuat ketika organisasi kemasyarakatan terlibat langsung dalam kegiatan yang memberikan manfaat bersama. Pola tersebut juga dapat menjadi jembatan antara konsolidasi organisasi dengan kontribusi nyata di tingkat masyarakat.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai PSMTI memiliki peran dalam membangun kebersamaan sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan. Organisasi kemasyarakatan mempunyai ruang untuk membantu pemerintah menjaga keharmonisan sosial melalui interaksi yang melampaui perbedaan etnis, agama, maupun latar belakang. Peran tersebut semakin relevan ketika Indonesia menghadapi berbagai perubahan sosial dan ekonomi menuju 2045. Pemerintah membutuhkan partisipasi masyarakat agar pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat kohesi sosial. PSMTI melalui jaringan organisasinya dapat menjadi salah satu penghubung antara masyarakat, dunia usaha, dan berbagai unsur lainnya. Kolaborasi semacam itu diharapkan mampu menghasilkan kegiatan yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat.
Munas VIII PSMTI pada akhirnya diharapkan menghasilkan kepemimpinan serta arah organisasi yang mampu menjawab tantangan empat tahun mendatang. Evaluasi kepengurusan, penyusunan haluan organisasi, penyerapan aspirasi daerah, dan pemilihan ketua umum menjadi bagian dari proses untuk menjaga kesinambungan organisasi. Dengan jaringan yang telah menjangkau puluhan provinsi dan ratusan kabupaten/kota, PSMTI mempunyai ruang yang besar untuk memperluas kegiatan sosial, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Semangat “Perteguh Harmoni Kebhinekaan Menuju Indonesia Emas 2045” diharapkan tidak berhenti sebagai tema kegiatan, tetapi diterjemahkan dalam program nyata setelah Munas berakhir. Konsolidasi nasional tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat posisi masyarakat Tionghoa sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia. Melalui kerja sama lintas kelompok dan kontribusi sosial yang berkelanjutan, PSMTI menargetkan perannya dalam menjaga persatuan dan memperkuat kebhinekaan dapat semakin nyata di tengah masyarakat.