Jakarta, 3 Agustus 2026 – Seruan untuk kembali kepada nilai-nilai yang diwariskan para pendiri atau muasis Nahdlatul Ulama (NU) mengemuka dalam rangkaian Muktamar NU setelah Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyampaikan pandangan yang sejalan mengenai pentingnya menjaga jati diri organisasi. Keduanya menilai bahwa semangat, prinsip, dan nilai-nilai yang telah dirintis oleh para pendiri NU perlu terus menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks. Seruan tersebut mendapat perhatian luas karena disampaikan di tengah momentum penting organisasi yang menjadi ruang konsolidasi bagi para ulama, pengurus, dan warga Nahdliyin dari berbagai daerah. Menurut mereka, kembali kepada nilai-nilai dasar organisasi bukan berarti menolak perubahan, melainkan memastikan bahwa setiap langkah pembaruan tetap berakar pada prinsip-prinsip yang telah menjadi fondasi Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri.
Dalam penyampaiannya, Gus Ipul menegaskan bahwa NU memiliki sejarah panjang sebagai organisasi keagamaan yang tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga memberikan kontribusi besar terhadap kehidupan kebangsaan. Oleh karena itu, nilai-nilai yang diwariskan para pendiri dipandang sebagai pedoman penting dalam menjaga arah perjalanan organisasi di tengah dinamika sosial, politik, ekonomi, dan perkembangan teknologi yang terus berubah. Menurutnya, semangat para muasis mengajarkan pentingnya keseimbangan antara menjaga tradisi yang baik dan menerima pembaruan yang membawa kemaslahatan. Pendekatan tersebut dinilai tetap relevan untuk menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Sementara itu, Gus Kikin juga menyampaikan pentingnya memperkuat pemahaman terhadap warisan pemikiran para pendiri NU sebagai landasan dalam menjalankan berbagai program organisasi. Ia menilai bahwa keberhasilan NU selama puluhan tahun tidak terlepas dari kemampuan organisasi dalam memegang teguh prinsip-prinsip dasar sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman. Menurutnya, generasi penerus perlu terus mempelajari sejarah, nilai, serta pemikiran para ulama pendiri agar arah perjuangan organisasi tetap berada pada koridor yang telah ditetapkan sejak awal. Dengan demikian, proses regenerasi kepemimpinan dapat berlangsung tanpa menghilangkan identitas dan karakter khas Nahdlatul Ulama.
Seruan tersebut muncul dalam suasana Muktamar NU yang menjadi forum penting bagi organisasi untuk melakukan evaluasi, menyusun arah kebijakan, serta memperkuat konsolidasi antarstruktur kepengurusan. Muktamar tidak hanya menjadi agenda organisasi untuk memilih kepemimpinan dan membahas berbagai program kerja, tetapi juga menjadi ruang bertukar pandangan mengenai tantangan yang dihadapi umat dan bangsa. Berbagai isu strategis, mulai dari penguatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, hingga pengembangan dakwah di era digital menjadi bagian dari pembahasan yang berkembang dalam forum tersebut. Karena itu, penegasan mengenai pentingnya kembali kepada nilai-nilai para pendiri dipandang sebagai upaya menjaga kesinambungan arah organisasi.
Pengamat sosial keagamaan menilai bahwa ajakan untuk kembali kepada nilai-nilai muasis memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar mengenang sejarah organisasi. Menurut mereka, pesan tersebut merupakan dorongan agar setiap kebijakan dan langkah organisasi tetap berlandaskan prinsip moderasi, persatuan, serta kemaslahatan yang selama ini menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, organisasi keagamaan dinilai memerlukan fondasi nilai yang kuat agar mampu menjawab berbagai tantangan tanpa kehilangan identitas. Pendekatan seperti ini juga dinilai penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap peran organisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selain memperkuat aspek ideologis, berbagai kalangan menilai bahwa semangat para pendiri juga perlu diwujudkan melalui penguatan program-program yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Pengembangan pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi umat, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dipandang sebagai bentuk nyata dari implementasi nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para ulama terdahulu. Dengan memadukan warisan pemikiran dan inovasi yang sesuai dengan perkembangan zaman, organisasi diharapkan mampu memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Muktamar NU juga dipandang sebagai momentum untuk memperkuat persatuan dan soliditas di lingkungan organisasi. Para peserta diharapkan menjadikan forum tersebut sebagai ruang musyawarah yang mengedepankan semangat kebersamaan, saling menghormati, dan mencari solusi terbaik bagi perkembangan organisasi di masa depan. Nilai-nilai yang diwariskan para muasis dinilai menjadi perekat yang mampu menjaga kesatuan di tengah beragam pandangan yang berkembang. Dengan semangat tersebut, Nahdlatul Ulama diharapkan terus mampu menjalankan perannya sebagai organisasi keagamaan yang berkontribusi terhadap kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.
Seruan yang disampaikan Gus Ipul dan Gus Kikin untuk kembali kepada nilai-nilai para muasis Nahdlatul Ulama menjadi salah satu pesan penting dalam rangkaian Muktamar NU. Ajakan tersebut menegaskan bahwa penguatan identitas organisasi harus berjalan beriringan dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Melalui pemahaman yang lebih mendalam terhadap warisan pemikiran para pendiri, penguatan program yang berpihak kepada masyarakat, serta semangat persatuan dalam setiap pengambilan keputusan, Nahdlatul Ulama diharapkan terus mampu menjaga perannya sebagai organisasi yang memberikan kontribusi besar bagi kehidupan keagamaan, kebangsaan, dan pembangunan Indonesia di masa yang akan datang.