Garut, 4 September 2026 – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyatakan kesiapan TNI Angkatan Darat membantu pembangunan jembatan bagi masyarakat di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya, Jawa Barat. Pembangunan tersebut diarahkan untuk membantu warga yang selama ini menghadapi keterbatasan akses akibat kondisi infrastruktur penghubung yang belum memadai. Maruli menilai keberadaan jembatan memiliki peran penting karena berhubungan langsung dengan mobilitas masyarakat menuju sekolah, fasilitas kesehatan, pasar, lahan pertanian, dan pusat kegiatan ekonomi. TNI AD akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menentukan lokasi yang benar-benar membutuhkan penanganan sekaligus memastikan pembangunan memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin warga. Sebelum pekerjaan dimulai, personel teknis akan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi medan, bentang sungai, akses material, serta kebutuhan konstruksi di setiap lokasi. Maruli ingin pembangunan dilakukan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat dan tidak sekadar menghasilkan infrastruktur yang akhirnya kurang dimanfaatkan.
Kesiapan tersebut disampaikan Maruli ketika melakukan rangkaian kegiatan di Jawa Barat dan melihat langsung sejumlah persoalan infrastruktur yang masih dihadapi masyarakat. Menurutnya, TNI AD mempunyai kemampuan personel teknik yang dapat dikerahkan untuk membantu pembangunan fasilitas dasar di daerah. Kemampuan tersebut selama ini tidak hanya digunakan untuk mendukung tugas pertahanan, tetapi juga dalam operasi selain perang dan kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Pembangunan jembatan merupakan salah satu pekerjaan yang dapat melibatkan satuan zeni karena membutuhkan perencanaan teknis, pengolahan konstruksi, dan kemampuan bekerja pada medan yang tidak selalu mudah. Namun TNI tetap membutuhkan koordinasi dengan pemerintah daerah, terutama berkaitan dengan lokasi, status lahan, kebutuhan masyarakat, dan dukungan pembangunan. Kerja sama tersebut diharapkan membuat proses persiapan hingga pelaksanaan dapat berjalan lebih efektif.
Maruli menekankan bahwa penentuan lokasi menjadi tahapan penting sebelum pembangunan dilakukan. TNI AD tidak ingin memilih titik hanya berdasarkan permintaan tanpa terlebih dahulu memastikan tingkat kebutuhan dan jumlah masyarakat yang akan memperoleh manfaat. Tim akan melihat apakah jembatan menjadi akses utama warga atau terdapat jalur alternatif yang masih dapat digunakan secara layak. Kondisi geografis juga harus diperhitungkan karena kawasan Garut dan Tasikmalaya memiliki banyak wilayah berbukit, sungai, lembah, dan permukiman yang tersebar. Karakter tersebut membuat kebutuhan konstruksi pada setiap titik dapat berbeda sehingga tidak seluruh jembatan dapat dibangun menggunakan desain yang sama. Survei teknis nantinya menjadi dasar untuk menentukan ukuran, jenis konstruksi, kebutuhan material, serta metode pembangunan yang paling sesuai.
Pembangunan jembatan diharapkan terutama memberikan manfaat bagi masyarakat yang selama ini harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk mencapai fasilitas penting. Di sejumlah kawasan pedesaan, keterbatasan akses penghubung dapat membuat perjalanan menuju sekolah, puskesmas, pasar, maupun pusat pemerintahan menjadi lebih panjang. Kondisi menjadi semakin sulit ketika musim hujan menyebabkan debit sungai meningkat atau jalan alternatif mengalami kerusakan. Keberadaan jembatan permanen yang aman dapat memangkas waktu perjalanan sekaligus mengurangi risiko warga ketika melintasi sungai. Anak-anak sekolah menjadi salah satu kelompok yang dapat memperoleh manfaat besar apabila akses menuju tempat pendidikan menjadi lebih mudah. Begitu pula masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dalam kondisi darurat karena perjalanan dapat dilakukan lebih cepat.
Dari sisi ekonomi, pembangunan jembatan juga berpotensi membantu petani dan pelaku usaha di wilayah Garut serta Tasikmalaya. Kedua daerah memiliki aktivitas pertanian yang cukup besar dengan berbagai komoditas yang harus diangkut dari sentra produksi menuju pasar. Infrastruktur yang terbatas dapat meningkatkan biaya transportasi karena kendaraan harus menggunakan jalur memutar atau hasil produksi dibawa secara manual melewati akses yang sulit. Ketika jembatan tersedia, kendaraan pengangkut dapat mencapai wilayah produksi dengan lebih mudah sehingga distribusi barang menjadi lebih efisien. Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga pedagang dan masyarakat yang membutuhkan pasokan barang dari luar wilayah. Infrastruktur penghubung karena itu memiliki hubungan langsung dengan aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Keterlibatan TNI AD dalam pembangunan infrastruktur masyarakat bukan merupakan hal baru. Jajaran Angkatan Darat selama ini menjalankan berbagai kegiatan yang menyentuh kebutuhan dasar warga, termasuk pembangunan sumber air bersih, rehabilitasi fasilitas umum, perbaikan jalan, hingga pembangunan jembatan. Program TNI Manunggal Membangun Desa juga menjadi salah satu sarana untuk membantu pemerintah daerah mempercepat pembangunan pada kawasan yang membutuhkan dukungan. Maruli mendorong agar kemampuan satuan teritorial dan teknik dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan konkret yang ditemukan di lapangan. Namun bantuan tersebut tetap ditempatkan sebagai bagian dari kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat, bukan menggantikan kewenangan instansi sipil. Dengan pembagian tugas yang jelas, sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara lebih optimal.
Pemerintah daerah nantinya memiliki peran penting dalam menyiapkan berbagai kebutuhan administratif maupun dukungan lapangan. Status lahan pada sisi jembatan harus jelas agar pembangunan tidak menimbulkan persoalan setelah konstruksi selesai. Jalan penghubung menuju jembatan juga harus diperhatikan karena fasilitas tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila akses di kedua sisinya tidak memadai. Selain itu, pemerintah daerah perlu mempertimbangkan pemeliharaan setelah jembatan diserahkan dan digunakan masyarakat. Infrastruktur membutuhkan pemeriksaan berkala untuk memastikan struktur tetap aman, terutama setelah menghadapi hujan dengan intensitas tinggi maupun peningkatan debit sungai. Kolaborasi sejak tahap perencanaan diharapkan membuat pembangunan tidak berhenti pada penyelesaian fisik semata.
Kondisi geografis Garut dan Tasikmalaya membuat kebutuhan terhadap jembatan juga berkaitan dengan mitigasi bencana. Kedua wilayah memiliki kawasan dengan topografi pegunungan dan perbukitan yang dapat menghadapi banjir, longsor, maupun pergerakan tanah pada kondisi tertentu. Pembangunan konstruksi karena itu harus mempertimbangkan karakter sungai dan potensi perubahan kondisi lingkungan. Fondasi, elevasi jembatan, kekuatan struktur, hingga kemampuan menghadapi peningkatan debit air perlu diperhitungkan sebelum pekerjaan dimulai. Kesalahan menentukan konstruksi dapat membuat infrastruktur cepat rusak ketika menghadapi cuaca ekstrem. TNI AD melalui personel teknik akan menggunakan hasil survei sebagai dasar untuk menyesuaikan desain dengan kondisi masing-masing lokasi.
Maruli juga menempatkan partisipasi masyarakat sebagai bagian penting dari pelaksanaan pembangunan. Warga setempat mengetahui kondisi wilayah dan pola aktivitas sehari-hari sehingga informasi mereka dapat membantu menentukan lokasi maupun kebutuhan akses. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan yang memungkinkan juga dapat membangun rasa memiliki terhadap fasilitas yang nantinya digunakan bersama. Setelah jembatan selesai, warga diharapkan ikut menjaga kebersihan lingkungan sekitar dan melaporkan apabila menemukan kerusakan yang berpotensi membahayakan pengguna. Pemerintah desa dan daerah kemudian dapat melakukan pemeliharaan berdasarkan kondisi yang ditemukan. Pendekatan gotong royong tersebut dinilai penting agar manfaat pembangunan dapat bertahan dalam jangka panjang.
KSAD memastikan kesiapan TNI AD membangun jembatan di Garut dan Tasikmalaya akan ditindaklanjuti melalui koordinasi dan pemetaan kebutuhan di lapangan. Lokasi prioritas akan dipilih berdasarkan tingkat urgensi, jumlah masyarakat yang membutuhkan akses, kondisi geografis, serta kesiapan pelaksanaan pembangunan. Maruli berharap keberadaan jembatan nantinya dapat mempermudah anak-anak menuju sekolah, mempercepat akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, serta membantu petani membawa hasil produksi menuju pasar. Infrastruktur yang lebih baik juga diharapkan membuka keterisolasian sejumlah wilayah dan meningkatkan hubungan ekonomi antardesa. TNI AD akan memanfaatkan kemampuan personel teknik untuk membantu merealisasikan pembangunan bersama pemerintah daerah dan masyarakat. Melalui langkah tersebut, pembangunan jembatan tidak hanya menghasilkan fasilitas fisik, tetapi diharapkan memberikan perubahan nyata terhadap mobilitas dan kualitas kehidupan masyarakat di Garut serta Tasikmalaya.